FORCASI — SALING SAPA: Inovasi Jemput Bola Layanan Publik Kecamatan Pabuaran Hadirkan Negara sampai ke Pelosok Desa
Pabuaran, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat — Pemerintah Kecamatan Pabuaran menghadirkan sebuah terobosan inovasi pelayanan publik berbasis jemput bola, yaitu program SALING SAPA (Selasa Keliling Sambil Pelayanan). Inovasi ini dirancang untuk membawa layanan administrasi dan kesehatan langsung ke tengah masyarakat, khususnya warga di wilayah terpencil yang jauh dari pusat layanan pemerintahan.
Program SALING SAPA menjadi bentuk komitmen Camat Pabuaran, Ali Murtado, untuk memastikan bahwa negara hadir secara nyata, cepat, dan responsif dalam memenuhi hak-hak dasar masyarakat. Inovasi ini tidak hanya menghadirkan layanan administratif, tetapi juga menyentuh aspek kesehatan dan edukasi keluarga sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup warga.
Latar Belakang dan Konteks Inovasi
Masih banyak warga di pelosok Pabuaran yang mengalami kesulitan mengakses layanan pemerintahan, terutama layanan administrasi kependudukan dan dokumen resmi akibat keterbatasan jarak, transportasi, dan kondisi geografis. Untuk menjawab tantangan tersebut, SALING SAPA hadir sebagai program jemput bola yang mengantar berbagai layanan pemerintahan hingga ke desa-desa terpencil.
Pendekatan jemput bola ini sejalan dengan praktik layanan publik modern yang menempatkan kebutuhan masyarakat sebagai prioritas utama. Pemerintah tidak menunggu warga datang ke kantor kecamatan, melainkan turun langsung ke lapangan untuk melayani kebutuhan warga secara langsung. Model layanan seperti ini telah diterapkan di berbagai daerah sebagai solusi meningkatkan cakupan layanan publik di desa-desa terpencil.
Pelaksanaan dan Cakupan Layanan SALING SAPA
Program SALING SAPA dilaksanakan setiap hari Selasa dua pekan sekali di wilayah Kecamatan Pabuaran. Pada setiap kegiatan, tim pelayanan kecamatan membawa paket layanan yang komprehensif, meliputi:
-
Pelayanan administrasi kependudukan, termasuk perekaman dan pencetakan e-KTP, pengurusan akta kelahiran, serta penerbitan Kartu Keluarga (KK).
-
Layanan kesehatan gratis, melalui pemeriksaan kesehatan yang dilakukan oleh tenaga medis untuk warga yang membutuhkan.
-
Edukasi ketahanan keluarga, sebagai bagian dari upaya menguatkan pengetahuan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di lingkungan keluarga.
Dengan cakupan layanan yang luas dan komprehensif tersebut, SALING SAPA menjadi contoh bagaimana layanan pemerintahan dapat menjangkau kebutuhan dasar masyarakat secara langsung, terutama bagi mereka yang selama ini memiliki akses terbatas ke layanan pemerintahan.
Dampak bagi Masyarakat
Respons masyarakat terhadap kehadiran program SALING SAPA sangat positif. Warga menyampaikan bahwa kehadiran layanan ini tidak hanya memudahkan mereka dalam mendapatkan dokumen penting, tetapi juga memberikan rasa diperhatikan oleh pemerintah. Banyak warga menyatakan bahwa SALING SAPA membuat mereka merasa bahwa negara benar-benar hadir di tengah mereka dan memahami kebutuhan di tingkat akar rumput.
Program ini juga membantu mempercepat proses administrasi bagi kelompok masyarakat yang kesulitan mobilitasnya, seperti lansia dan penyandang disabilitas, karena layanan datang langsung ke lingkungan mereka tanpa harus pergi ke kantor pemerintahan yang lebih jauh.
Nilai Strategis Inovasi
Inovasi SALING SAPA memiliki nilai strategis tinggi dalam konteks pelayanan publik di tingkat kecamatan karena:
-
Meningkatkan akses layanan pemerintahan hingga pelosok desa.
-
Mengurangi kesenjangan layanan bagi warga yang berada di wilayah terpencil.
-
Mendorong pendekatan pemerintahan yang proaktif dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
-
Memperkuat kepercayaan publik terhadap pemerintahan melalui kehadiran langsung dan responsif.
Model layanan jemput bola seperti SALING SAPA juga menjadi inspirasi bagi kecamatan lain untuk mengadopsi pendekatan serupa dalam memastikan layanan publik dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
Pesan FORCASI
Forum Camat Seluruh Indonesia (FORCASI) mengapresiasi langkah inovatif yang dilakukan oleh Camat Pabuaran, Ali Murtado, melalui program SALING SAPA. Inovasi ini menunjukkan bahwa pelayanan publik tidak hanya berbicara tentang administrasi di balik meja, tetapi tentang kehadiran pemerintah yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
FORCASI mendorong agar praktik jemput bola dan pendekatan layanan yang humanis ini dapat menjadi contoh bagi kecamatan lain di seluruh Indonesia untuk memperluas akses layanan publik, terutama di wilayah-wilayah yang selama ini mengalami keterbatasan akses.
Penutup
Program SALING SAPA menjadi bukti bahwa inovasi pemerintahan di tingkat kecamatan dapat lahir dari kebutuhan riil masyarakat dan menjawab tantangan pelayanan publik dengan solusi yang efektif, inklusif, dan berdampak. Pendekatan jemput bola yang dilakukan oleh Camat Pabuaran menghadirkan semangat pelayanan yang tidak hanya cepat dan efektif, tetapi juga dekat dengan warga hingga pelosok desa.









