Inovasi “Pelayanan Cepat Tunggu di Tempat (PECUT)” di Kecamatan Sebulu – Menuju Pelayanan Publik yang Cepat, Efisien dan Dekat ke Warga
Pelayanan publik di tingkat kecamatan semakin dituntut untuk lebih cepat, efisien, dan mudah diakses oleh masyarakat. Menyadari hal tersebut, Kecamatan Sebulu dalam wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kaltim) meluncurkan sebuah inovasi layanan publik bernama “Pelayanan Cepat Tunggu di Tempat (PECUT)”.
Inovasi ini diperkenalkan untuk menjawab hambatan-pelayanan yang sering dialami masyarakat, seperti perjalanan jauh ke kantor kecamatan, waktu tunggu yang lama, hingga prosedur yang belum sepenuhnya berbasis digital. Melalui PECUT, diharapkan masyarakat cukup datang sekali dan dapat menunggu di lokasi pelayanan hingga dokumen selesai, tanpa harus bolak-balik.
Nilai dan Tujuan Inovasi
Beberapa nilai utama yang diusung melalui PECUT antara lain:
-
Kecepatan: Meminimalkan waktu tunggu dan mempercepat proses verifikasi dokumen.
-
Kemudahan akses: Masyarakat bisa mengurus dokumen dari desa atau melalui sistem digital terlebih dahulu, kemudian datang sekali untuk pencetakan atau validasi akhir.
-
Dekat ke warga: Pelayanan tidak hanya di kantor kecamatan, tetapi melibatkan kantor desa sebagai titik pelayanan agar lebih dekat ke masyarakat.
-
Efisiensi birokrasi: Mengurangi perjalanan, waktu, dan beban administratif bagi warga.
Model Pelayanan dan Layanan Unggulan
Program PECUT di Sebulu mencakup sejumlah layanan unggulan yang difokuskan agar prosesnya cepat dan langsung selesai di tempat. Menurut laporan, ada enam jenis layanan yang masuk ke dalam skema tersebut:
-
Pembuatan AK/1 (kartu pencari kerja)
-
Kartu Keluarga (KK)
-
Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM)
-
Surat Pindah
-
Surat Datang
-
Cetak KTP dari kehilangan
Dengan mekanisme layanan digital terlebih dahulu, kemudian warga datang menunggu hasil final, kecamatan ini berhasil memangkas waktu dan langkah birokrasi.
Proses Implementasi dan Apel Pagi
Untuk mensosialisasikan dan menguatkan komitmen bersama, kecamatan mengadakan apel pagi sebagai bagian dari agenda rutin yang menekankan pentingnya pelayanan publik prima dan komitmen aparatur kecamatan terhadap inovasi ini.
Kegiatan semacam apel pagi ini juga berfungsi sebagai pengingat internal bahwa inovasi bukan sebatas program, tetapi bagian dari budaya kerja dan pelayanan yang harus dijalankan setiap hari.
Dampak dan Respon Masyarakat
Respon masyarakat terhadap inovasi PECUT cukup positif. Warga merasa terbantu karena proses pengurusan dokumen menjadi jauh lebih cepat dan tidak lagi menunggu lama atau harus datang berulang kali.
Sementara itu, aparatur kecamatan juga merasakan perubahan paradigma — dari pelayanan yang bersifat birokratis ke pelayanan yang pro-aktif, digital, serta lebih berpihak ke masyarakat.
Tantangan & Pelajaran Untuk Diteruskan
Meskipun inovasi ini membawa banyak manfaat, terdapat tantangan yang harus dihadapi:
-
Penyediaan infrastruktur digital dan jaringan yang memadai terutama di desa-desa.
-
Pelatihan aparatur desa dan kecamatan agar mampu mengoperasikan sistem digital dengan baik.
-
Pemantauan dan evaluasi secara rutin untuk memastikan standar pelayanan tetap terjaga dan tidak kembali ke birokrasi lama.
Relevansi Bagi FORCASI dan Camat Seluruh Indonesia
Bagi organisasi Forum Camat Seluruh Indonesia (FORCASI), inovasi PECUT di Sebulu menjadi contoh konkret bagaimana camat dapat memperkuat pelayanan publik dari tingkat kecamatan. Beberapa pelajaran yang bisa diambil:
-
Camat sebagai pemimpin perubahan: Inovasi muncul dari inisiatif kecamatan, bukan hanya dari atas.
-
Sinergi dengan desa dan aparat lokal: Pelayanan yang dekat ke masyarakat membutuhkan kolaborasi antar-level.
-
Layanan digital sebagai pendekatan masa depan: Menjawab perubahan zaman dan ekspektasi masyarakat.
-
Budaya pelayanan menjadi bagian dari rutinitas: Apel pagi dan komitmen aparatur penting untuk memastikan inovasi berkelanjutan.
Kesimpulan
Inovasi PECUT di Kecamatan Sebulu menunjukkan bahwa pelayanan publik yang cepat, efisien, dan dekat ke masyarakat bukanlah mimpi, tetapi kenyataan yang bisa diwujudkan ketika camat dan jajaran aparatnya berkomitmen dan melakukan langkah strategis. Dengan pendekatan digital dan kolaboratif, pelayanan di tingkat kecamatan bisa semakin relevan di era modern.
Bagi camat di seluruh Indonesia, inovasi ini bisa menjadi inspirasi untuk memperkuat kualitas pelayanan di wilayah masing-masing. FORCASI mendukung penuh langkah-langkah inovatif seperti ini dan siap berbagi praktik baik agar pelayanan di kecamatan semakin unggul.









