FORUM CAMAT SELURUH INDONESIA

Membangun Sinergi Komunikasi Koordinasi Dalam Mengemban Tugas Kepamongprajaan Sebagai Abdi Negara dan Masyarakat

Artikel

Inovasi Camat Rasanae Timur Maraso dalam Gotong Royong untuk Gerakan Kota Bima BISA

Inovasi Camat Rasanae Timur: “Maraso” dalam Gotong Royong untuk Gerakan Kota Bima BISA

Rasanae Timur, Kota Bima — Di balik suasana hangat dan komunal di Kecamatan Rasanae Timur, Camat Imam Ardi Susanto memimpin sebuah inisiatif inovatif bernama Program Maraso yang berfokus pada pelibatan masyarakat lewat gotong royong untuk mendukung Gerakan Kota Bima BISA (Bersih, Indah, Sehat, Asri).

Latar Belakang: Semangat Kolektif dalam Kota Bima BISA

Gerakan Kota Bima BISA telah dicanangkan sebagai gerakan kota yang melibatkan warga, pemerintahan, dan lembaga masyarakat dalam mewujudkan Bima yang bersih, sehat, dan asri. 
Dalam konteks ini, Camat Rasanae Timur melihat potensi besar pada dna lokal: budaya gotong royong. Melalui Maraso, camat menginisiasi kegiatan bersih-bersih massal secara rutin di kecamatan, sebagai manifestasi nyata dari dukungan terhadap Bima BISA.

Apa Itu Inovasi “Maraso”?

Kata “Maraso” diambil sebagai nama program inovasi Kecamatan Rasanae Timur — menandai keberanian dan semangat kolaboratif untuk membuat perubahan positif melalui aktivitas fisik bersama. Inovasi ini bukan hanya kampanye sekali, tetapi diintegrasikan sebagai aktivitas rutin (gotong royong Jumat Bersih) yang dijalankan bersama warga, aparat kecamatan, hingga unsur keamanan setempat.
Kegiatan tersebut memperlihatkan pakta sosial antara pemerintah kecamatan dan masyarakat: kebersihan lingkungan bukan hanya tanggung jawab dinas, tetapi juga warganya.

Implementasi & Pelibatan Warga

Pada Jumat, 21 Maret 2025, Camat Rasanae Timur secara langsung memimpin Jumat Bersih di 8 kelurahan dalam kecamatan, dari Puskesmas Rasanae Timur hingga wilayah Kelurahan Dodu. 
Kolaborasi lintas sektoral pun terlihat: Camat, aparat polisi (Kapolsek), dan elemen masyarakat bekerja sama membersihkan jalan dan ruang publik.

Gotong royong ini bukan sekadar simbolik — tapi bagian dari strategi inovatif untuk:

  • Meningkatkan keterlibatan warga secara aktif dalam program kebersihan kota.

  • Membangun kesadaran lingkungan jangka panjang, yang relevan dengan target Gerakan BIMA BISA.

  • Memperkuat rasa memiliki kecamatan, karena warga diajak bekerja sama dalam aksi konkrit.

Sinergi dengan Gerakan Kota BIMA BISA

Program Maraso ini sejalan dengan inisiasi Dinas Lingkungan Hidup Kota Bima yang mengadakan gotong royong serentak di lima kecamatan, termasuk Rasanae Timur. Website Bima+1
Kolaborasi ini memperkuat legitimasi Maraso sebagai bagian dari strategi kota besar, bukan program lokal semata.

Dampak Sosial & Nilai Inovasi

Beberapa nilai dan dampak dari inisiatif Maraso:

  1. Penguatan Jiwa Komunal
    Maraso menggunakan mekanisme gotong royong tradisional sebagai alat inovasi sosial modern, yang menghubungkan warga dan pemerintah kecamatan secara nyata.

  2. Peningkatan Kualitas Lingkungan
    Dengan rutin melakukan aksi bersih-bersih, program ini membantu mengurangi sampah dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya lingkungan bersih.

  3. Pendidikan Kesehatan Masyarakat
    Melalui kerja sama dengan Puskesmas Rasanae Timur, kegiatan bersih-bersih dapat menjadi momen edukatif untuk kesehatan lingkungan. Puskesmas Rasanae Timur

  4. Sustainabilitas Budaya Lokal
    Alih-alih memaksakan program institusional, Maraso memanfaatkan budaya gotong royong lokal yang sudah melekat sebagai fondasi inovasi.

  5. Kolaborasi Multi-pihak
    Aksi Maraso melibatkan warga, aparat kecamatan, polisi, dan instansi terkait — menandakan bahwa perubahan sosial harus datang dari berbagai elemen pemerintahan dan masyarakat.

Tantangan & Peluang ke Depan

Meski Maraso sudah berjalan positif, beberapa tantangan bisa muncul:

  • Keberlanjutan: Gotong royong harus dijalankan secara konsisten agar tidak menjadi kegiatan sesaat.

  • Partisipasi warga: Tidak semua warga bisa rutin hadir setiap Jumat — perlu mekanisme insentif atau rotasi partisipasi.

  • Sumber daya: Pembersihan butuh alat dan tenaga; kecamatan mungkin butuh dukungan anggaran atau donasi warga.

  • Evaluasi dampak: Perlu metrik untuk mengukur dampak kebersihan terhadap kesehatan, kebersihan lingkungan, dan kepedulian sosial.

Namun peluangnya sangat besar: Maraso bisa menjadi model inovasi kecamatan lain di Kota Bima dan diadopsi sebagai bagian reguler dari program BIMA BISA, bukan hanya gerakan simbolis.

Kesimpulan

Inovasi Maraso yang dipelopori Camat Rasanae Timur adalah contoh konkret bagaimana pemerintah lokal bisa menggerakkan masyarakat dengan cara tradisional namun relevan di zaman modern.
Melalui gotong royong rutin, Maraso membantu mewujudkan Kota Bima BISA dengan cara lokal yang inklusif dan berkelanjutan.
Jika dijalankan dengan konsisten, Maraso tidak hanya memperindah lingkungan fisik, tetapi juga menguatkan ikatan sosial, rasa kepemilikan warga, dan budaya kolektif kebersihan yang berakar kuat.