FORUM CAMAT SELURUH INDONESIA

Membangun Sinergi Komunikasi Koordinasi Dalam Mengemban Tugas Kepamongprajaan Sebagai Abdi Negara dan Masyarakat

Artikel

Inovasi Camat Rancabali Komitmen Kuat Mamet Slamet dalam Menekan Angka Stunting

FORCASI – Inovasi Camat Rancabali: Komitmen Kuat Mamet Slamet dalam Menekan Angka Stunting

Rancabali, Kabupaten Bandung – Camat Mamet Slamet, S.Ip., M.Si., menunjukkan kepemimpinan visioner dengan menciptakan rangkaian inovasi dan motivasi untuk menekan angka stunting di wilayah Kecamatan Rancabali. Melalui pendekatan kolaboratif lintas sektor, beliau menegaskan komitmen pelayanan kesehatan optimal demi masa depan generasi muda yang lebih sehat dan kuat. 

Latar Belakang & Tantangan

Angka stunting merupakan salah satu persoalan pembangunan manusia yang serius. Kecamatan Rancabali tidak luput dari tantangan ini, sehingga memerlukan upaya strategis dari pemangku pemerintahan lokal. Camat Mamet Slamet memahami bahwa penurunan stunting membutuhkan intervensi yang tidak hanya bersifat medis, tetapi juga program yang menggerakkan komunitas dan sinergi lintas lembaga kesehatan dan pemerintah desa. 

Inovasi Melalui Apel Pagi di Puskesmas

Pada 15 September 2025, Camat Mamet memimpin apel pagi di Puskesmas Rancabali yang dihadiri oleh staf kesehatan, bidan desa, serta kader posyandu. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan sebagai bagian dari upaya percepatan penurunan stunting. 

Beberapa poin penting yang disampaikan Mamet Slamet dalam apel tersebut:

  • Kedisiplinan Aparatur: Apel rutin menjadi sarana peneguhan disiplin kerja di berbagai sektor, termasuk kesehatan, pendidikan, dan desa. 

  • Sosialisasi Program Kesehatan: Ia memaparkan program Kabupaten Bandung dan langkah konkret kecamatan untuk memperkuat pelayanan kesehatan masyarakat. 

  • Sinergi Semua Pihak: Camat mengajak semua elemen, terutama bidan desa dan kader posyandu, untuk aktif dalam program penanganan stunting. 

  • Layanan Administasi Cepat untuk Keluarga Berisiko: Ia menginstruksikan quick response terhadap layanan khusus, termasuk masalah data administrasi seperti KTP dan KK, agar warga bisa mendapatkan akses penuh ke fasilitas kesehatan. 

Strategi & Program Penurunan Stunting

Dalam upaya menekan angka stunting, Camat Mamet Slamet merumuskan delapan program strategis melalui sinergi lintas sektor. Menurut laporan, program-program tersebut mencakup: 

  1. Pembinaan Kader Posyandu: Memperkuat peran kader posyandu agar lebih peka terhadap isu gizi dan balita risiko. 

  2. Kolaborasi Lintas Sektor Kesehatan: Kerja sama erat antara puskesmas, desa, dan kecamatan untuk eksekusi program kesehatan terpadu. 

  3. Pelaporan Berjenjang & Layanan Terpadu: Sistem pelaporan masalah sosial dan kesehatan agar tanggap dan cepat ditindaklanjuti. 

  4. Preventif & Edukasi Masyarakat: Kampanye pencegahan stunting melalui edukasi pola asuh, gizi, dan kebersihan.

  5. Dukungan terhadap Inovasi KARASA: Camat memberikan dukungan program cek kesehatan gratis (KARASA) di wilayah untuk memperluas akses layanan kesehatan. 

  6. Peningkatan Komunikasi & Publikasi: Pemanfaatan media sosial Puskesmas dan pegawai kecamatan untuk menyebarkan informasi terkait pelayanan kesehatan dan inovasi.

  7. Keterlibatan Pemerintah Desa: Dalam sosialisasi dan pendataan keluarga berisiko, desa didorong agar aktif bersama kecamatan. 

  8. Komitmen Quick Response Data Administratif: Memastikan data kependudukan (KTP/KK) warga lengkap agar mereka mendapatkan layanan kesehatan yang layak. 

Makna & Nilai Penting bagi FORCASI

Inovasi Camat Mamet Slamet di Rancabali memiliki nilai strategis tinggi dan bisa menjadi model bagi Camat anggota FORCASI lain:

  • Kepemimpinan yang Proaktif
    Camat Mamet Slamet menunjukkan bahwa kecamatan bukan hanya entitas administratif, tapi juga motor perubahan sosial. Dengan memimpin apel di puskesmas, ia menunjukkan kedekatan dengan bidang kesehatan dan komitmen untuk turun langsung.

  • Sinergi Masyarakat dan Pemerintah
    Program ini dibangun atas kolaborasi antara posyandu, desa, puskesmas, dan aparatur kecamatan. Ini menggambarkan model manajemen kecamatan yang partisipatif dan berorientasi masyarakat.

  • Pendekatan Preventif & Edukasi
    Penekanan pada edukasi pola asuh dan gizi menunjukkan bahwa pencegahan stunting bukan hanya soal intervensi medis, tetapi juga perubahan perilaku jangka panjang.

  • Inovasi Administratif
    Penanganan data administrasi melalui “quick response” agar masyarakat berisiko mendapatkan hak kesehatan secara lebih mudah merupakan contoh inovasi birokrasi untuk pelayanan publik yang lebih adil.

Tantangan & Catatan Untuk Diteruskan

Beberapa hal penting yang perlu menjadi perhatian agar inovasi ini berkelanjutan dan semakin efektif:

  1. Pemantauan dan Evaluasi Berkala
    Diperlukan sistem pemantauan yang jelas untuk mengukur dampak program terhadap penurunan angka stunting. Rembuk stunting dan laporan berjenjang harus diperkuat.

  2. Pelatihan Berkelanjutan bagi Kader Posyandu
    Agar kader posyandu dapat mendampingi balita lebih optimal, pelatihan rutin sangat diperlukan agar kapasitas mereka semakin baik.

  3. Peningkatan Anggaran Lintas Sektor
    Untuk menjaga kesinambungan program seperti KARASA dan quick response administratif, perlu alokasi anggaran yang memadai dari kecamatan dan dukungan dari kabupaten.

  4. Komunikasi Publik
    Edukasi masyarakat melalui media sosial, radio lokal, leaflet, dan forum desa penting agar warga sadar akan program dan manfaatnya.

Penutup

Inovasi Camat Mamet Slamet di Kecamatan Rancabali bukan sekadar simbol kepedulian birokrasi, tetapi aksi nyata dalam membangun masa depan generasi muda. Melalui kombinasi sinergi, edukasi, dan pelayanan proaktif, beliau menegaskan bahwa penurunan stunting adalah tanggung jawab bersama.

Bagi FORCASI, model kepemimpinan semacam ini patut diteladani dan disebarkan ke seluruh jaringan Camat di Indonesia. Karena kecamatan yang kuat dalam pelayanan kesehatan sosial adalah fondasi penting bagi pembangunan manusia dan generasi Indonesia yang lebih sehat dan produktif.