FORUM CAMAT SELURUH INDONESIA

Membangun Sinergi Komunikasi Koordinasi Dalam Mengemban Tugas Kepamongprajaan Sebagai Abdi Negara dan Masyarakat

Artikel

FORCASI Inovasi Camat Bener Dolan Deso sebagai Strategi Proaktif Lawan Stunting

FORCASI — Inovasi Camat Bener: “Dolan Deso” sebagai Strategi Proaktif Lawan Stunting

Purworejo, Jawa Tengah — Camat Bener mengambil langkah progresif dalam upaya menekan angka stunting di wilayahnya melalui program bernama “Dolan Deso”. Inisiatif ini menggabungkan pendekatan pemberdayaan, pelayanan langsung, dan sinergi donatur untuk memberikan dukungan nyata kepada keluarga rentan stunting. 

Latar Belakang Tantangan Stunting di Kecamatan Bener

Stunting menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang kompleks dan memerlukan intervensi di banyak level — dari edukasi gizi, pendampingan ibu hamil, hingga pemantauan tumbuh-kembang anak. Di banyak desa, akses informasi dan layanan kesehatan tidak merata, apalagi bagi keluarga yang kesulitan mobilitas atau sumber daya.

Menyadari hal ini, Camat Bener mengusung solusi lokal: membawa pendekatan pencegahan ke desa-desa dengan menggabungkan program sosial, medis, dan kemitraan dengan donatur.

“Dolan Deso”: Konsep Inti Inovasi

Dolan Deso adalah program jemput bola kecamatan, di mana tim dari kecamatan secara rutin melakukan kunjungan desa ke rumah keluarga calon penerima manfaat (terutama ibu hamil dan keluarga dengan risiko stunting).

  • Lewat kunjungan ini, camat bersama tim kesehatan dan kader lokal memberikan pendampingan langsung ibu hamil: edukasi gizi, pemantauan kehamilan, dan pemeriksaan awal. 

  • Tim juga menggandeng donatur lokal atau filantropi untuk memberikan dukungan gizi: paket makanan tambahan, vitamin, atau bantuan lain yang diperlukan. Ini menciptakan sinergi antara pemerintah kecamatan dan masyarakat yang peduli. 

  • Selain itu, “Dolan Deso” bertujuan membangun keterlibatan masyarakat desa sendiri dalam upaya pencegahan stunting melalui penguatan kader posyandu dan peran kampung dalam menjaga kesehatan generasi mendatang.

Nilai Strategis dan Dampak Positif

Inovasi ini membawa berbagai kontribusi strategis:

  1. Pendekatan Preventif dan Komunitas
    Dengan mendatangi langsung calon penerima manfaat di desa, Camat Bener memastikan bahwa intervensi dilakukan lebih awal dan personal. Ini memperkuat pencegahan daripada hanya reaksi setelah kasus stunting terdeteksi.

  2. Kolaborasi dengan Donatur
    Melibatkan donatur lokal membuka jalur pendanaan swadaya yang bisa dipergunakan untuk paket gizi, suplemen, atau kebutuhan dasar bagi keluarga rentan — tanpa harus selalu bergantung pada anggaran kecamatan.

  3. Pemberdayaan Lokal
    Program ini tidak hanya tentang “bantuan”, tapi juga pemberdayaan: membangun kapasitas kader lokal dan masyarakat deso (desa) agar bisa menjaga kesehatan generasi sendiri.

  4. Efisiensi Layanan
    Kunjungan langsung mengurangi beban akses bagi warga yang mungkin sulit datang ke puskesmas atau kantor kecamatan, sekaligus meningkatkan efektivitas pemantauan kesehatan ibu dan balita.

Tantangan dan Catatan Penting

Beberapa tantangan yang perlu dicermati agar “Dolan Deso” bisa berkelanjutan:

  • Pendanaan dan Komitmen Donatur: Agar program berjalan jangka panjang, perlu mekanisme transparan dalam pengelolaan donasi dan laporan penggunaan dana.

  • Sumber Daya Manusia: Petugas kecamatan, kader kesehatan, dan kader posyandu memerlukan pelatihan dan dukungan agar bisa menjalankan pendampingan dengan efektif.

  • Pemantauan & Evaluasi: Diperlukan sistem monitoring dampak program terhadap pertumbuhan anak, agar dapat menilai efektivitas “Dolan Deso” sebagai strategi penurunan stunting.

  • Sosialisasi ke Desa: Agar warga desa memahami manfaat program dan bersedia berpartisipasi, perlu edukasi berkelanjutan dan keterlibatan tokoh lokal.

Relevansi Bagi FORCASI dan Camat Seluruh Indonesia

FORCASI menilai bahwa “Dolan Deso” merupakan contoh nyata kepemimpinan camat yang proaktif, inovatif, dan peduli terhadap isu pembangunan manusia. Beberapa pelajaran yang bisa diambil:

  • Camat berperan bukan hanya sebagai admin pemerintahan, tetapi sebagai agen perubahan sosial.

  • Inovasi pelayanan dari pemerintah kecamatan bisa melibatkan donor dan komunitas untuk memperkuat intervensi kesehatan publik.

  • Program jemput bola seperti “Dolan Deso” bisa direplikasi di kecamatan lain, terutama di daerah desa yang sulit dijangkau.

  • Pemberdayaan kader lokal penting agar intervensi kesehatan lebih berkelanjutan dan berdampak.

Penutup

Dengan program “Dolan Deso”, Camat Bener menunjukkan bahwa pencegahan stunting bisa dilakukan dengan langkah nyata yang dekat dengan masyarakat. Inovasi ini memperkuat sinergi antara pemerintahan kecamatan, donatur, dan warga desa — demi masa depan anak-anak yang lebih sehat dan Indonesia yang lebih maju.

FORCASI memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif ini dan mengajak Camat di seluruh Indonesia untuk melihat “Dolan Deso” sebagai inspirasi nyata bagaimana birokrasi kecamatan bisa hadir sebagai penyeimbang sosial dan pembangunan kesehatan.